5.2.15

Sekarang saya mengerti, kenapa ketika saya memulai lebih dulu dengan rasa, saya tidak pernah mendapatkan anda.

Karena saya berubah. Ya, bukan lagi menjadi diri saya yang biasa. Bukan lagi saya yang dengan berani bicara kelemahan kamu, mengingatkan bahwa banyak wacana yang harus kamu jadikan realita, bukan lagi saya yang terlihat begitu independen, tak ada kamu pun tak apa-apa.

Ketika saya mulai dengan rasa, semuanya terbuka, dan terlihat kalau saya butuh kamu. Saya ingin kamu.

Sudah lama tidak menginginkan orang, dan sekarang kenapa harus kamu? Yang untuk memberikan waktu pun rasanya enggan, tapi entah bagaimana aku masih yakin kamu ingin.

We should give this a shot. Did we?

We are tired with status, so we end and left to be free. But still, we want&need each other commitment to stay.

Saya mengerti betul kalau perjalanan kamu yang kemarin cukup melelahkan, dan membuat kamu ingin bebas. Saya juga menjalani hal yang sama. Membuat kamu dan saya jadi pribadi yang, dalam periode ini, tidak ingin terikat.

Tapi dalam ketidak-inginanmu untuk terikat, ada berapa besar niat untuk tinggal disini?

After years, now I'm feeling insecure.

Saya takut kamu tertarik oleh objek-objek yang berlalu-lalang di waktu mendatang.

Tapi ada keyakinan yang diajarkan, buat apa khawatir?. Itukan indahnya hidup, ketidakpastian.

Tanpa disadari, kita lebih mengejar dan menunggu segala sesuatu yang tidak pasti bukan? :)



Regards,
Nathania Rucita

17.12.14


hai!

kamu pasti sering kan baca tulisan diatas? atau tulisan sejenis yang pokoknya intinya seperti diatas?

awalnya setiap lihat tulisan diatas saya cuma swipe terus layar tab atau hp, ah engga penting, karena saya belum mengerti dan merasakan arti tulisan itu.

tapi sekarang saya sudah mengerti. saya sudah merasakan. dan saya tahu betul betapa penting bersikap seperti apa yang tulisan itu bilang.

saya bertemu banyak tipe orang baru yang belum saya temui di waktu yang lalu. yang sensitifnya luar biasa, yang needy nya bikin orang ngga tahan dibutuhkan (padahal biasanya orang seneng banget kan kalau merasa dibutuhkan), yang keras kepala, sampai yang kamu engga habis pikir kenapa ada orang yang punya persepsi seperti dia.

saya kenal teman-teman baru yang ajaib. yang mengajarkan banyak soal latar belakang orang-orang. yang punya medan perang mereka masing-masing. Yang dimana medan mereka berperang selama belasan tahun itu, akhirnya membentuk alam bawah sadar, tingkat paranoia, rasa percaya, dan daya juang mereka pribadi lepas pribadi.

kamu bisa baca medang perang sebagai rumah.

siapa yang tahu, orang yang kamu pikir kamu dekat, ternyata mengalami hal yang begitu dahsyat di medan perangnya dulu? 

mengertikah kamu kenapa ada mereka yang tak rindu rumah?

perbedaan bentukan alam bawah sadar, tingkat paranoia,  bentukan pribadi, rasa percaya, melahirkan orang dengan sifat yang berbeda-beda. Dan ketika bertemu dengan kamu, dengan kamu dan medan perangmu, tentu saja tidak semua dapat bersatu dan berjalan sesuai dengan keinginanmu.

mulailah kamu merasa risih, lalu tidak menyukai, dan akhirnya membicarakan satu-sama-lain. 

ketika kamu melakukan itu, pernahkah kamu berpikir medan apa yang membentuk pribadi macam itu?

kamu boleh bilang, dunia mana mau peduli medan perangmu? 

dunia hanya mau tahu, kau ada dan berlaku seperti apa yang diinginkan
jadi kalau kau dan medan perang pencetak pribadimu tak sinkron dengan demand dunia, pergi saja jauh-jauh.

tega kah kau?

atau

kamu bisa jadi orang yang, tetap menemani disetiap langkah mereka. pribadi hasil cetakan medan yang ditolak dunia. 

jadi pribadi yang tak menyerah memberitahu, merubah, mendoakan, dan berusaha membahagiakan mereka yang tak sadar bahwa medan mereka telah membunuh pelan-pelan?

jangan pernah menyerah menemani dan membuat orang lain bahagia. 
karena Tuhan tidak pernah menyerah menghadapi kamu.

kamu lebih kurang ajar dibanding temanmu yang ditolak dunia itu. Kamu tak tahu berterima kasih. sudah ribuan kali Tuhan coba beritahu dan rubah dirimu. tapi kau tetap keraskan hati.

masih bisa kah kamu menolak orang yang ditolak dunia? 
sedangkan Tuhan tak pernah sedetik pun menolak kamu?

aku, kamu, kita, bukan Tuhan
kita punya batas kesabaran. Kita tidak mungkin menerima segala kelemahan. kita pasti punya penolakan.

andaikan kamu memang tak bisa menerima kelemahan pribadi itu,
jadilah diam.
jangan jadi provokator baru. 

kritik langsung lebih baik tampaknya, dibanding kau buat perkara berlipat-lipat dibelakang mata